Republik Kongo

Republik Kongo

Kongo – Republik Kongo, atau disebut Kongo dan Kongo Tengah (berbeda dengan negara Republik Demokratik Kongo/Zaire, yang juga dulunya bernama Republik Kongo), adalah negara bekas koloni Perancis di sebelah barat-tengah Afrika.

Wilayah ini didominasi oleh suku berbahasa Bantu, yang membangun hubungan perdagangan yang mengarah ke hulu Sungai Kongo. Republik ini adalah mantan koloni Perancis.[3] Setelah kemerdekaan pada tahun 1960, bekas wilayah Prancis dari Kongo Tengah menjadi Republik Kongo. Republik Rakyat Kongo adalah partai tunggal negara Marxis-Leninis 1970-1991. Pemilu multipartai telah diselenggarakan sejak tahun 1992, Walaupun pemerintah yang dipilih secara demokratis digulingkan dalam Perang Saudara Republik Kongo tahun 1997.

Geografi

Luas wilayah 2.345.410 km2. Republik Demokratik Kongo (RDK) sebagian besar terdiri dari berbagai lapisan utama dari Sungai Kongo [sungai terbesar kedua di dunia] dan hutan hujan tropis Afrika @0@Tengah yang sangat luas.

Ekonomi

Republik Demokratik Kongo

Peluang yang besar di sektor ekonomi berasal dari kekayaan berlian, sumber daya mineral, dan pertanian. Negara ini juga memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna. Sungai Kongo sangat baik untuk PLTA [Pembangkit Listrik Tenaga Air] yang dapat diberdayakan sebagai sumber listrik untuk seluruh benua. Kalangan elit yang korup dan mudah disuap, struktur administrasi yang jelek, infrastruktur yang nyaris tidak ada, perang dan perselisihan yang kerap terjadi menjadikan negara ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Lahan pertanian dengan hasil pertanian yang menguntungkan telah menjadi hutan. Sistem transportasi nyaris tidak berfungsi. Sebagian besar penduduk hidup tanpa listrik, saluran air, layanan pendidikan atau kesehatan. Penjarahan pribadi yang dilakukan oleh presiden sebelumnya, Mobutu, kemudian diikuti dengan perang antarsuku dan hiperinflasi yang tiada henti. Infrastruktur apa pun yang menyerupai infrastruktur ekonomi atau politik untuk seluruh negeri dihancurkan atau dilumpuhkan, dengan membawa efek yang menghancurkan bagi penduduk negeri ini.

Politik

Selama berabad-abad, RDK telah mengalami penghancuran karena aksi yang dilakukan oleh para pemilik budak asal Arab, eksploitasi oleh bangsa Barat, dan dalam tahun-tahun belakangan ini eksploitasi oleh orang-orang Afrika. Negara ini menjadi koloni Belgia selama 60 tahun. Pemberian kemerdekaan yang terlalu cepat kepada orang-orang yang belum siap menerima kemerdekaan mengakibatkan masa-masa yang penuh dengan tindak kekerasan, anarkistis, dan berbagai perang dari kelompok separatis yang mencapai puncaknya pada saat kudeta militer Mobutu pada tahun 1965. Kediktatoran yang didukung oleh pihak Barat menekan pihak oposisi dan mengawasi tingkat korupsi yang menggemparkan. Perang Great Lakes di Rwanda dan Burundi menyebar sampai ke RDK bagian timur dan daerah Tutsi/Banyamulenge. Hal ini kemudian membuat Laurent Kabila berkuasa pada tahun 1997 dengan dukungan orang-orang Rwanda dan Uganda. Peraturan yang ditetapkannya tidak konsisten dan bersifat autokratis. Adanya invasi dari Uganda dan Rwanda menyulut perang kembali.

Perang tersebut membutuhkan campur tangan dan bantuan dari Angola, Zimbabwe, dan Namibia serta misi perdamaian PBB. Kabila dibunuh pada tahun 2001, dan Joseph, anaknya, ditunjuk untuk menggantikan posisinya. Pada tahun 2003 semua angkatan bersenjata asing ditarik secara resmi dari RDK. Pada tahun 2006 negara menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas untuk pertama kalinya dan dengan jumlah pemilih lebih dari 70%. Walaupun kursi kepresidenan diperebutkan, Joseph Kabila menang setelah melalui pemilu putaran kedua dan mencoba membangun kembali pemerintahan yang gagal dengan cara-cara yang efektif. Milisi pemberontak (Mai-mais) di timur (suku Hutu dan Tutsi) dari negara tetangga Rwanda masih beroperasi dan relatif mempunyai kekebalan hukum. Konflik di RDK memakan lebih banyak korban jiwa daripada konflik di mana pun sejak Perang Dunia II.

Related posts