RD Kongo Kena Musibah Terus Sial Banget

RD Kongo Kena Musibah Terus Sial Banget

daftarnegaratermiskin.web.id Menjadi salah satu dari bagian daftar negara termiskin di dunia,Ternyata tidak cukup untuk membuat Republik Demokratik Kongo jika tidak mencantumkan sebagai salah satu negara dengan predikat negara tersial di dunia juga,karena mengdapatkan musibah sebanyak dua kali yang mempunyai skala yang termasuk besardalam satu bulan lebih.Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai RD Kongo Kena Musibah Terus Sial BangDan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai RD Kongo Kena Musibah Terus Sial Banget

Penyebaran Penyakit Campak Dan Ebola Di Kongo
Organisasi Kesehatan Dunia WHO melaporkan bahwa wabah campak telah menewaskan lebih dari 6.000 orang di Democratic Republic of the Congo (RDC) atau Republik Demokratik (RD) Kongo.Dalam sebuah pernyataan, organisasi itu meminta mitra dan lembaga internasional untuk meningkatkan sumber daya guna memerangi apa yang disebutnya “epidemi campak terburuk di dunia.”Menurut laporan CNN, Kamis (9/1/2020), sekitar 310.000 kasus campak yang dicurigai telah dilaporkan di DRC sejak tahun lalu dan kekurangan dana tetap menjadi “penghalang besar” bagi upaya untuk mencegah penyebaran wabah, kata WHO.WHO mengatakan meskipun badan tersebut dan mitra internasionalnya telah melakukan vaksinasi terhadap 18 juta anak-anak Kongo di bawah usia 5 tahun terhadap penyakit ini, cakupan imunisasi rutin masih rendah di seluruh wilayah negara tersebut.

Dikatakan bahwa 25% dari kasus yang dilaporkan di negara itu terjadi pada anak di bawah 5 tahun, yang paling rentan terhadap penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksin.Campak telah merenggut nyawa masyarakat Afrika dua kali lipat lebih banyak dari Ebola.Organisasi itu mengatakan bahwa meskipun telah memobilisasi $ 27,6 juta, dibutuhkan $ 40 juta lagi untuk memastikan anak-anak yang berusia antara 6 dan 14 tahun menerima program vaksinasi sambil juga meningkatkan respons kesehatan lainnya terhadap wabah tersebut.

“Kami melakukan yang terbaik untuk mengendalikan epidemi ini. Namun untuk benar-benar berhasil, kami harus memastikan bahwa tidak ada anak yang menghadapi risiko kematian yang tidak perlu akibat penyakit yang mudah dicegah dengan vaksin. Kami mendesak mitra donor kami untuk segera meningkatkan bantuan mereka, “Dr. Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika, mengatakan dalam pernyataan itu.Lebih dari 140.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat campak tahun lalu, kebanyakan dari mereka berusia di bawah 5 tahun.

Campak, virus yang sangat menular, menyebar melalui batuk dan bersin dan dapat hidup di udara setelah orang yang terinfeksi batuk atau bersin hingga dua jam.Ketika seseorang tanpa kekebalan yang cukup menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh permukaan yang terinfeksi, mereka dapat tertular virus, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.Amédée Prosper Djiguimdé, petugas yang bertanggung jawab atas kantor WHO di DRC, mengatakan bahwa sementara agensi mengakui kontribusi pemerintah dan donor dalam mengakhiri wabah mematikan, diperlukan lebih banyak upaya.

“Ribuan keluarga Kongo membutuhkan bantuan kami untuk mengangkat beban epidemi yang berkepanjangan ini dari mereka. Kami tidak dapat mencapai ini tanpa keuangan yang memadai,” kata Djiguimde dalam pernyataan itu.Republik Demokratik Kongo berjuang melawan campak dan epidemi Ebola yang mematikan bagi negara tersebut. Keduanya merupakan wabah penyakit terbesar kedua sejarah – yang dimulai pada Agustus 2018.Ketidakpercayaan sistem kesehatan dan konflik milisi yang meluas di beberapa provinsi di Kongo adalah di antara banyak kendala yang dihadapi lembaga kesehatan yang bekerja untuk mengakhiri epidemi kembar di negara ini.

Seperti dalam kasus Ebola, WHO mengatakan sulit untuk mendapatkan akses ke komunitas rentan karena wabah penyakit lain dan situasi keamanan di beberapa daerah.Pada November, empat petugas kesehatan yang menanggapi wabah Ebola tewas di Kongo timur.Seorang dokter Kamerun ditembak mati pada bulan April di sebuah rumah sakit di Butembo, tempat ia merawat pasien Ebola.WHO mengatakan 60 petugas kesehatan yang dilatih pada bulan Desember akan dikerahkan di seluruh negeri minggu ini untuk membantu badan tersebut dan juga melibatkan masyarakat.

Insiden Pesawat Jatuh Di Republik Kongo
Para pejabat urusan darurat di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) mengatakan, 26 orang tewas ketika sebuah pesawat jatuh tak lama setelah lepas landas pada Minggu 24 November.Pesawat Dornier-228 berkapasitas 19 kursi, yang dioperasikan oleh perusahaan lokal Busy Bee, jatuh di daerah permukiman penduduk di dekat bandara Goma.Beberapa di antara korban adalah orang di darat ketika pesawat itu jatuh.Pihak berwenang RD Kongo mengatakan, 17 penumpang dan dua awak dalam pesawat tewas, serta tujuh orang di darat, demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Senin (25/11/2019).

Baca Juga : KBRI Dan Fidel Castro Berita Kuba Terbaru

Pesawat itu sedianya menuju ke Beni, 350 kilometer di utara Goma.Foto-foto pertama dari tempat kejadian memperlihatkan asap membumbung di atas permukiman, dengan beberapa rumah terbakar dan puluhan laki-laki menyemprotkan air untuk memadamkannya.Gubernur Kivu Utara mengatakan “sangat sedih” untuk mengonfirmasi bahwa kecelakaan itu telah “mengorbankan nyawa teman-teman sebangsa kita”, dan dia menawarkan belasungkawa kepada keluarga para korban.Pihak maskapai Busy Bee di RD Kongo belum memberikan komentar.

Perawatan pesawat yang buruk dan standar keamanan udara yang longgar dituding menyebabkan banyak kecelakaan pesawat di negara Afrika tengah itu.Tidak ada maskapai komersial Kongo, termasuk Busy Bee, yang diizinkan memasuki wilayah udara Uni Eropa karena kekhawatiran keamanan.Ini adalah salah satu kecelakaan udara di Afrika yang menuai sorotan media internasional.Terakhir, pada 10 Maret 2019, kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines berpesawat Boeing 737 MAX menewaskan seluruh 157 orang di dalamnya.

Sebuah pesawat dengan setidaknya 16 penumpang dan dua kru jatuh ke kawasan perumahan di kota Goma di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) bagian timur pada Minggu (24/11/2019) waktu lokal.Gubernur Provinsi Kivu Utara, Nzanzu Kasivita Carly mengatakan ada korban tewas dalam kecelakaan, tetapi tidak menyebut jumlahnya, demikian seperti dilansir BBC.Pesawat itu jatuh ke rumah-rumah di lingkungan Mapendo setelah gangguan saat lepas landas dari bandara internasional kota, tambahnya.Warga perumahan termasuk di antara korban tewas dan luka, kata laporan media setempat.

Pesawat Dornier-228 yang jatuh merupakan milik maskapai pribadi RD Kongo, Busy Bee.Pesawat itu seharusnya terbang ke Beni, 350 km utara Goma, ketika jatuh sekitar satu menit setelah lepas landas, kata sumber di bandara Goma kepada BBC.Gubernur Kivu Utara mengatakan “sangat sedih” untuk mengonfirmasi bahwa kecelakaan itu telah “mengorbankan nyawa teman-teman sebangsa kita”, dan dia menawarkan belasungkawa kepada keluarga para korban.Pihak maskapai Busy Bee di RD Kongo belum memberikan komentar.

Kecelakaan udara relatif sering terjadi di RD Kongo, di tengah standar keselamatan yang lemah dan perawatan yang buruk.Semua operator komersial negara itu dilarang beroperasi di Uni Eropa.Ini adalah salah satu kecelakaan udara di Afrika yang menuai sorotan media internasional.Terakhir, pada 10 Maret 2019, kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines berpesawat Boeing 737 MAX menewaskan seluruh 157 orang di dalamnya.

 

Related posts