Negara Sudan Selatan

Negara Sudan Selatan

Daftarnegaratermiskin.web.id – Keadaan negara terbaru di dunia sejauh ini dilakukan oleh Sudah Selatan. Negara ini hanya sebagian kecil dari Sudan yang baru merdeka pada 9 Juli 2011 dan terdaftar di PBB pada 13 Juli 2011, tak lama setelah hari kemerdekaannya.

Bernama resmi Republik Sudan Selatan, wilayah dengan luas 619.745 km2 ini secara geografis terkurung daratan di Afrika timur laut. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Sudan di utara, Ethiopia di timur, Kenya di tenggara, Uganda di selatan, Kongo di barat daya, dan Afrika Tengah di barat. Hal inilah yang kemudian menjadikan Sudan Selatan tidak memiliki wilayah perairan laut.

Sebagian besar Sudan Selatan dihuni oleh orang-orang berbahasa Nilo-Saharan, dan minoritas yang memakai berbahasa sehari-hari Niger-Kongo. Kehadiran masyarakat Nilotic yang kini mendominasi penduduk Sudan Selatan sudah ada sejak zaman prasejarah. Menurut The Journal of African History yang ditulis Peter Robertshaw, suku Nilotic makin membesar ekspansinya di Sudan Selatan sejak abad ke-14, seiring runtuhnya kerajaan Kristen Nubian dan masuknya para pedagang Arab ke Sudan tengah.

Menurut situs diplomasi antara Amerika Serikat dengan Sudan, perekonomian wilayah Sudan Selatan sejak masih bergabung dengan Sudan didominasi daerah pedesaan, yang utamanya bergantung pada sektor pertanian. Baru pada 2005, geliat perekonomian mulai merangsek ke daerah perkotaan.

Perang berkepanjangan harus dibayar dengan konsekuensi kelalaian negara yang serius, salah satunya adalah kurangnya pembangunan infrastruktur. Juga penghancuran besar-besaran yang mengakibatkan jutaan orang terbunuh dan yang lainnya mengungsi, baik di dalam maupun luar negeri.

Baca juga : Negara Sierra Leone

Berakhirnya Perang Saudara Sudan Kedua pada 2005 ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Komprehensif di Nairobi yang dimediasi oleh Otoritas Antar-Pemerintah untuk Pembangunan beserta partnernya. Termasuk Pemerintah Sudan Selatan yang secara otonom telah dibentuk.

Menindaklanjuti kesepakatan wilayah otonom Sudan Selatan, pada 2011 diadakan referendum pada tanggal 9-15 Januari guna menentukan wilayah Sudan Selatan tetap bergabung dengan Sudan atau memilih merdeka. Hasil referendum pada 30 Januari menunjukkan 98.83 persen penduduk Sudan Selatan memilih merdeka. Secara resmi, pada 9 Juli 2011 Sudan Selatan resmi menjadi wilayah independen yang merdeka.

Namun, perselisihan masih mewarnai hasil kemerdekaan tersebut, terutama terkait pembagian pendapatan minyak karena 75 persen seluruh cadangan minyak Sudan ada di Sudan Selatan. Wilayah Abyei kala itu juga masih diperebutkan dan diadakan referendum lagi secara terpisah. Termasuk konflik Kordofan Selatan yang pecah pada 5 Juni 2011 sampai sekarang, melibatkan tentara nasional Sudan dan front pembebasan bersenjata.

Meski merdeka, Sudan Selatan tidak bisa lepas dari perang sipil antar-etnis yang terjadi di beberapa wilayah negara bagiannya. Bahkan beberapa konflik yang sedang berlangsung sudah terjadi sebelum kemerdekaan dicapai. Menurut laporan Al Jazeera, pada April 2011 Sudan Selatan harus menghadapi 9 dari 10 kelompok bersenjata di berbagai wilayah negara bagiannya.

Sampai sekarang, perang masih berlangsung. Laporan Al Jazeera menyebut lebih dari 300.000 orang tewas selama perang sipil di Sudan Selatan. Termasuk peristiwa menonjol seperti Pembantaian Bentiu, 2014 lalu. Menurut laporan Independent Online di Afrika, sekitar 3 juta orang dari total 12 juta penduduk Sudan Selatan mengungsi dari rumah tinggalnya, baik di dalam maupun ke negara tetangga terutama Kenya, Sudan dan Uganda.

Related posts