Myanmar Siap Siap Tuntaskan Teror Rohingya

Myanmar Siap Siap Tuntaskan Teror Rohingya

daftarnegaratermiskin.web.id Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Myanmmar Siap Siap Tuntaskan Teror Rohingya Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Myanmmar Siap Siap Tuntaskan Teror Rohingya

Polisi Bangladesh menangkap 9 tersangka pelaku perdagangan orang. Penangkapan itu terjadi setelah kapal yang membawa pengungsi Rohingya menuju Malaysia tenggelam.Dilansir AFP pada, Jumat (14/2/2020), sebanyak 73 orang berhasil dievakuasi dan belasan orang dinyatakan hilang setelah kapal yang membawa 138 pengungsi Rohingya karam. Kapal itu tenggelam di Bangladesh selatan pada Selasa (11/2) waktu setempat.Polisi setempat mengatakan pihaknya telah lama memburu 19 tersangka pelaku perdagangan orang, 18 di antaranya adalah warga Bangladesh. Namun 9 orang tersangka ditangkap pada saat kapal tenggelam.

“Sembilan pelaku perdagangan manusia telah ditangkap dalam dua hari terakhir,” kata Wakil Kepala Polisi Cox’s Bazar, Ikbal Hossain, kepada AFP.Mereka ditangkap di distrik sebelah tenggara Cox’s Bazar di mana hampir satu juta orang Rohingya tinggal di kamp-kamp kumuh setelah banyak yang melarikan diri dari Myanmar di tengah penumpasan militer pada tahun 2017.Sedikitnya 48 warga minoritas muslim Rohingya ditangkap di lautan oleh Angkatan Laut Myanmar. Mereka ditangkap setelah diduga melarikan diri dari kamp pengungsian di Bangladesh atau dari wilayah Rakhine, Myanmar.Seperti dilansir AFP, Jumat (14/2/2020), tidak diketahui pasti dari mana rombongan warga Rohingya ini mengawali pelayaran mereka. Namun diduga, mereka hendak melakukan perjalanan ke Malaysia atau Indonesia.

Seorang pejabat desa setempat, Myint Thein, menuturkan kepada AFP via telepon bahwa Angkatan Laut Myanmar mengamankan 48 warga Rohingya, termasuk anak-anak dan wanita, di lautan pada Rabu (12/2) malam waktu setempat. Terdapat juga lima orang yang diyakini sebagai ‘penyelundup’ di kapal yang dinaiki warga Rohingya tersebut.Seorang reporter AFP melaporkan kedatangan rombongan warga Rohingya itu di sebuah kantor polisi di kota Pathein, Myanmar, pada Jumat (14/2) pagi waktu setempat.”Kami tidak tahu bagaimana otoritas di kota Pathein akan memproses mereka,” ucap Myint Thein.Kelompok warga Rohingya yang ditangkap ini menambah panjang rentetan penangkapan oleh Myanmar dalam beberapa bulan terakhir.

Beberapa tahun terakhir, ribuan warga Rohingya nekat menempuh perjalanan penuh risiko via lautan demi melarikan diri dari kamp pengungsian di Bangladesh atau menyelamatkan diri dari penindasan di Rakhine, Myanmar.Tercatat sekitar 740 ribu warga Rohingya kabur dari Rakhine ke wilayah Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari penindasan militer Myanmar sejak tahun 2017 lalu. Kini kebanyakan dari mereka hidup merana di kamp-kamp pengungsian Bangladesh.Ratusan ribu warga Rohingya lainnya masih bertahan di Rakhine. Mereka tinggal di bawah pembatasan ketat dengan sedikit akses ke layanan kesehatan, pendidikan atau mata pencaharian. Amnesty International menyebutnya sebagai ‘apartheid’.

Sebelumnya pada Selasa (11/2) lalu, sedikitnya 15 pengungsi Rohingya tewas tenggelam setelah kapal yang mereka tumpangi — yang kelebihan muatan — karam saat berlayar ke Malaysia dari Bangladesh.Terhadap warga Rohingya yang ditangkap saat berusaha kabur, otoritas Myanmar memberlakukan berbagai langkah. Sejauh ini ada 22 warga Rohingya yang dipenjara selama dua tahun dan nyaris 200 orang lainnya dikembalikan ke kamp-kamp di Rakhine, serta 95 orang lainnya masih menjalani persidangan.Myanmar kembali menutup akses internet di dua negara bagian, Rakhine dan Chin, hanya lima bulan setelah mencabut pembatasan internet di wilayah yang sama. Perintah penghentian layanan diberikan kepada para operator, antara lain sebuah perusahaan Norwegia bernama Telenor Group yang kemudian membocorkan ke publik.

Dalam waktu dekat akses internet dan komunikasi seluler di lima daerah di negara bagian Chin dan Rakhine akan diputus selama setidaknya tiga bulan. Pemerintah Myanmar beralasan kebijakan tersebut diperlukan atas dasar “keamanan dan kepentingan publik”, tulis Telenor. Penutupan internet di empat wilayah lain yang berlaku sejak Juni tahun 2019 juga belum akan dicabut.Awalnya Naypyidaw membuka akses internet di Maungday, Buthidaung, Rathedaung dan Myebon menyusul negosiasi damai dengan kelompok separatis pada September silam.Anehnya kebijakan tersebut diambil tanpa melibatkan militer, klaim Jurubicara Tatmadaw, Tun Tun Nyi. “Kami tidak tahu dan belum mendengar kabar tersebut,” ujarnya ketika dihubungi Reuters via telepon.Langkah pemerintah menghentikan layanan internet dan komunikasi seluler diambil menyusul eskalasi kekerasan di kedua negara bagian.Sebelumnya dua orang perempuan tewas dan tujuh lain mengalami luka-luka ketika sebuah desa milik warga Rohingya dihujani tembakan senjata artileri.

Baca Juga : Kamboja Takut Deteksi Corona Di Kapal Pesiar

Militer Myanmar menepis tudingan mereka berada di balik insiden tersebut. Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah Pengadilan Internasional di Den Haag memerintahkan Myanmar untuk melindungi Rohingya dan mencegah terjadinya genosida.Lebih dari 730.000 warga muslim Rohingya terpaksa melarikan diri dari Rakhine pada 2017 silam menyusul operasi militer yang digelar Tatmadaw. PBB menuduh operasi tersebut dijalankan dengan “niatan genosida”, tulis pemantau PBB dalam laporannya.

Belakangan Rakhine kembali membara ketika pertempuran antara Tatmadaw dan kelompok separatis Arakan Army, memuncak. Akibatnya puluhan ribu penduduk mengungsi dan belasan dinyatakan meninggal dunia.Anggota legislatif dari kawasan yang terkena dampak penutupan akses internet mengatakan kebijakan pemerintah berdampak negatif terhadap kegiatan ekonomi. Selain itu penyaluran bantuan kemanusiaan ke desa-desa terpencil juga terancam berhenti.

“Sebagian penduduk desa harus mengungsikan diri ketika pertempuran terjadi,” kata Khin Saw Wai, anggota parlemen dari Rathedaung. “Kami bisa menolong mereka jika kami membaca pengaduan mereka di Facebook, entah itu membutuhkan makanan atau sedang dalam bahaya.”Anggota parlemen lain, Maung Kyaw Zan, juga mengritik pemerintah karena penutupan internet “tidak bagus buat Rakhine,” terutama jika melihat dampak pertempuran yang kian membebani warga sipil.Tanpa internet, warga akan kesulitan mengakses informasi, kata Aung Marm Oo, Kepala redaksi sebuah situs berita online di Rakhine. “Penutupan akses internet berdampak buruk bagi jurnalisme. Buat kami internet adalah sangat penting untuk mengirimkan data video atau gambar untuk pemberitaan kami,” kata dia.

Related posts