Mali

Mali

Mali – Sangat sedikit pengamat dan jurnalis yang mengkritik intervensi militer di Mali. Pers liberal cenderung bersikap diam karena musuh mereka adalah kelompok Islamis yang beraliansi dengan Al Qaida.

Kenyataannya ketegangan di Afrika adalah pertempuran kepentingan strategis dan sumberdaya alam.

Ayssar Midani, aktifis anti perang untuk Mali di Paris menyatakan intervensi militer di Mali dilatarbelakangi agenda khusus untuk mengamankan penguasaan minyak dan gas, emas, serta uranium di Mali dan Nigeria.

Dalam wawancara yang dilansir Press TV yang bermarkas di Teheran tersebut, Alyssar Midani menuduh penghancuran militan muslim di Mali hanyalah kedok untuk mengklaim sumber daya alam negara bekas jajahan Perancis tersebut.

Perancis juga disinyalir melarang media meliput gejolak di lapangan dengan bantuan tentara Mali.

Alyssar Midani bergabung dengan sesame aktifis anti perang lainnya seperti Lawrence J. Korb, anggota senior Center for American Progress di Washington, dan Michael Burns seorang analis politik dan militer dari New York.

Sejarah Mali
Mali penuh sejarah konflik, namun sejarah daerah, baik sebelum dan sesudah kekuasaan kekaisaran Perancis, menunjukkan bahwa dinamika konflik yang terjadi tidak sederhana.

Sebelum penaklukan, wilayah di Afrika Barat ini berada di garis depan peradaban. Sungai Niger, yang melewati wilayah Mali, memiliki transportasi dan member kekayaan melimpah kepada Kekaisaran Mali yang berlangsung dari abad ke-13 sampai abad ke-15. Kawasan itu dikenal kaya sumber daya alam seperti emas dan bijih besi.Kemudian, sumber daya alam tersebut menjadi daya tarik ambisi imperial dan kolonialis Perancis.

Afrika digambarkan oleh para penguasa Barat sebagai negeri tak beradab, yang secara alamiah korup dan miskin. Miskin, tapi Mali jadi rebutan.

Tapi sejarah berbicara lain. Pada awal abad ke-16 Leo Afrikanus, pelancong dan sejarawan Arab, mengunjungi Timbuktu. Dia menulis, “Toko-toko dari pengrajin, pedagang, dan terutama penenun kain katun sangat banyak. Kain juga diimpor dari Eropa”

Kota Timbuktu dan Djenne semula adalah pusat utama pendidikan Islam dan perdagangan di bawah Kesultanan Mali.

Dalam bidang pendidikan, perdagangan buku-buku juga membuat kota tersebut pusat pendidikan Islam Afrika.

“Istana kerajaan berdiri megah dan tertata apik. Sang Raja sangat menghormati pendidikan. Banyak buku tulisan tangan yang diimpor dari Barbary (Afrika Utara) juga dijual. Perdagangan ini member banyak keuntungan ketimbang aneka komoditi lain”

Kota ini adalah pusat perdagangan garam, emas, gading dan budak. Tapi Afrika Barat dimiskinkan oleh perdagangan budak Atlantik yang sangat brutal yang dijalankan oleh negara-negara Eropa.

Kurang lebih 9 juta hingga 13 juta penduduk Afrika dipaksa menjadi budak dan dikirim melintasi Atlantik. Lalu kekuatan Barat memecah dan memporak-porandakan benua tersebut.

Perancis merebut wilayah itu pada 1892. Di Mali, serdadu Perancis menindas secara brutal perlawanan dari masyarakat lokal. Perancis menciptakan kelompok-kelompok, memecah belah dan menggantikan Kerajaan Afrika Barat beberapa kali.

Misalnya antara tahun 1890 dan 1899 Mali dikenal sebagai Sudan Perancis. Batas-batas Mali modern sekarang adalah produk dari kolonialisme. Perancis tidak mau memberikan kemerdekaan sampai tahun 1960.

Pada 1959, Sinegal dan Mali bersatu membentuk Federasi Mali. Federasi ini memperoleh kemerdekaan dari Perancis 20 Juni 1960. Pengunduran diri Sinegal dari Federasi Mali pada Agustus 1960, membuka kesempatan Republik Sudan membentuk negara sendiri bernama Mali.

Dua kudeta militer terjadi pada bulan Maret dan Desember tahun lalu. Rakyat Mali lama hidup dalam kemiskinan, meskipun memiliki sumberdaya alam melimpah.

Mali bergabung dengan organisasi perdagangan dunia WTO, pada 31 Mei 1995, dan memperoleh program peningkatan kondisi sosial dan ekonomi dari lembaga tersebut. Namun aneka program tersebut tidak mampu menurunkan peringkat Mali sebagai salah satu negara term

Related posts