KBRI Dan Fidel Castro Berita Kuba Terbaru

KBRI Dan Fidel Castro Berita Kuba Terbaru

daftarnegaratermiskin.web.id Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai KBRI Dan Fidel Castro Berita Kuba Terbaru. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai KBRI Dan Fidel Castro Berita Kuba Terbaru

KBRI Dan Kuba
KBRI Havana dan pemerintah daerah Artemisa menggelar pentas budaya di Teatro Juarez Artemisa, Kuba. Pentas budaya tersebut untuk memperingati hubungan Diplomatik RI-Kuba ke 60 tahun.Dalam keterangan KBRI Havana, Minggu (26/1/2020), kegiatan yang dikemas dalam ‘Gala Budaya Indonesia-Kuba’ dihadiri oleh Duta Besar RI Havana Alfred T Palembangan dan Wakil Gubernur Artemisa Mr Yoan Moreno Blanco serta masyarakat Artemisa kurang lebih 700 penonton.

KBRI Havana menampilkan tari Sajojo, tari Enggang, tari Kipas Mamiri, performance angklung dan fashion show baju adat Nusantara serta tari poco-poco mewarnai kemeriahan pentas budaya dengan kaloborasi pentas seni budaya tradisional Kuba.

Dubes RI Kuba Alfred T Palembangan menyampaikan eratnya hubungan persahabatan RI-Kuba sejak kunjungan Presiden RI Soekarno tahun 1960 sampai sekarang. Pemerintah Daerah Artemisa Mr Yoan Moreno Blanco menyampaikan apresiasi dan kekagumannya pada kaloborasi budaya dua negara.

Penampilan kaloborasi seni budaya Indonesia-Kuba yang dibawakan oleh mahasiswa Indonesia dinilai memukau. Para mahasiswa adalah yang sedang meninba ilmu di Kuba dan siswa/i Kuba, serta keluarga besar KBRI Havana.

Fidel Castro Menjadi PM Terbaru

Sejarah mencatat hari ini tahun 1959, pemimpin revolusioner Fidel Castro disumpah jadi perdana menteri. Ia menjadi PM termuda yang pernah hidup di Kuba.Pada 15 Februari 1959, pria berusia 32 tahun sah menjadi PM Kuba. Ia dilantik menjadi PM di Ruang Kabinet Istana Presiden Havana.Fidel Castro memimpin pemberontakan terhadap 7 tahun pemerintahan Presiden Fulgeneio Batista. Ia mengomandoi Tentara 26 Juli, sebuah kekuatan gerilya yang menyingkirkan rezim lama ke pengasingan pada malam tahun baru.Pelantikan ini adalah pertama kalinya bagi Castro yang diasumsikan sebagai tanggung jawab administratif dalam pemerintahan sementara yang baru.

Koran Kuba Revolusi –dianggap sebagai media suara Tentara 26 Juli– menjelaskan pengangkatannya adalah untuk memecahkan masalah “pembubaran kekuasaan”, karena banyak pekerja dan industri telah mengamati pernyataan Castro dan dibanding pemerintah sejak revolusi.Menurut surat kabar, “sekarang pemerintah, revolusi dan orang-orang akan mengambil jalan yang sama.”Fidel Castro sedang cuti dari jabatannya sebelumnya sebagai Komandan dari angkatan bersenjata ketika Dr Jose Miro Cordoba –Perdana Menteri sejak 5 Januari– dan kabinetnya mengundurkan diri, tanpa penjelasan, dua hari sebelumnya.Beserta pendukungnya, media Kuba dan asing menyaksikan Fidel Castro dilantik. Pria berjenggot itu mengenakan seragam hijau zaitun tentara pemberontak dan topi khas. Merupakan gaya khas Castro.”Kami memiliki rencana besar dan kita menderita ketika kita tidak bisa menempatkan peralihan kepemimpinan dengan cepat, namun persiapan teknis mengambil waktu,” ucap Castro setelah dilantik seperti dilansir BBC On This Day.

Baca Juga : Myanmar Siap Siap Tuntaskan Teror Rohingya

Dia juga membantah memiliki kepentingan dalam mengambil alih sebagai presiden, dan mengatakan langkah hukum untuk menurunkan usia kelayakan adalah inisiatif dari presiden petahana manuel Urrutia Lleo.Presiden Urrutia dan Perdana Menteri Castro adalah sekutu lama dan diharapkan bekerja sama untuk mencapai tujuan revolusi reformasi ekonomi dan standar hidup untuk semua orang Kuba.Di hari yang sama pada tahun 1972, ratusan ribu pekerja tambang di Inggris mogok kerja. Mereka menuntut perbaikan taraf hidup, pengurangan jam kerja serta kenaikan upah.Akibat aksi mogoknya itu, rumah-rumah dan pabrik-pabrik mengalami kekurangan pasokan listrik. Akibatnya, negara berstatus darurat.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh Venezuela dan Kuba memicu kerusuhan di sejumlah negara Amerika Selatan.Elliot Abrams, pejabat yang memimpin usaha AS untuk menggulingkan pemerintahan Venezuela pimpinan Nicolas Maduro, mengatakan Venezuela dan Kuba menggunakan media sosial dan cara-cara lain untuk menciptakan kekacauan.”Ada makin banyak bukti [menunjukkan] bahwa pemerintah Venezuela dan Kuba berusaha memperburuk situasi di Amerika Selatan,” kata Abrams kepada wartawan, dikutip dari VOA Indonesia, Jumat.

Ia menunjuk pada pengusiran 59 warga Venezuela oleh pemerintah Kolombia karena ikut berdemonstrasi menentang Presiden Ivan Duque. Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo, Rabu (27/01), berbicara melalui telepon dengan Presiden Duque. Pompeo menyambut usaha Duque mengadakan dialog nasional untuk meredakan ketegangan di dalam negeri.Pompeo menegaskan lagi dukungan kuat Amerika atas pemerintah Kolombia yang sedang berusaha mencari penyelesaian dalam kemelut itu, kata juru bicara Departemen Luar Negeri.

Pejabat AS sebelum ini juga menuduh bahwa Venezuela terlibat dalam demo-demoang telah mengguncang Ekuador dan Chile.Kendati banyaknya kekacauan di dalam negeri, Maduro masih tetap berkuasa di Venezuela dan mendapat dukungan dari China dan Rusia. Kedua negara besar itu menuduh Amerika berusaha melancarkan kudeta di Venezuela.Berita bahwa Presiden Bolivia Evo Morales mengundurkan diri di tengah skandal pemilu menyoroti kenyataan getir tentang Amerika Selatan. Meskipun benua ini telah membuat langkah ekonomi besar dalam beberapa tahun terakhir, kawasan itu sering kali terganggu oleh kerusuhan politik dan sipil.

Dengan lebih dari 425 juta orang, negara-negara Amerika Selatan adalah di antara produsen dan pengekspor daging sapi dan kedelai terbesar di dunia (Brasil), minyak (Venezuela), kopi (Kolombia), anggur (Argentina dan Chili), tembaga (Chili dan Peru) dan gas alam (Bolivia).Tetapi Amerika Selatan juga telah lama dikenal karena ketidakstabilan politik dan ketegangan kebijakan publik.Pada abad yang lalu, beberapa negara Amerika Selatan menghadapi kudeta, kediktatoran militer dan pemberontakan sosial.Kini, sejak beberapa bulan terakhir, kawasan itu telah menunjukkan rangkaian gejolak yang hampir tidak pernah terjadi di masa lalu.

 

Related posts