Afrika Tengah

Afrika Tengah

Afrika Tengah – Republik Afrika Tengah ialah sebuah negara di pedalaman Afrika yang berbatasan dengan Chad, Sudan, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo dan Kamerun.

Dahulu negara ini merupakan koloni Perancis bernama Ubangi-Shari, yang mencapai kemerdekaan pada 1960. Selepas tiga dasawarsa bergolak akibat pemerintahan militer silih-berganti, akhirnya pemerintahan sipil berkuasa pada 1993. Namun, pemerintahan ini bertahan selama satu dekade saja. Pada Maret 2003 suatu kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Francois Bozize telah menjatuhkan pemerintahan sipil pimpinan Presiden Ange-Felix Patasse dan mendirikan pemerintahan peralihan di sana.

Geografi

Negara ini sepenuhnya berada di pedalaman benua Afrika. Sebagian besar negeri ini datar, atau sabana plato yang berputar-putar, khususnya sekitar 500 m dpl. Di timur laut ada Bukit Fertit, dan ada perbukitan yang tersebar di bagian barat daya negeri ini. Di barat lautnya ada Yade Massif, plato bergranit dengan ketinggian 1.143 m.

Sebagian besar bagian selatan negara ini dibentuk oleh anak-anak Sungai Kongo dengan Sungai Mbomou di timur yang bergabung dengan Sunagi Uele membentuk Sungai Ubangi. Di barat, Sungai Sangha mengalir melalui bagian negeri ini. Perbatasan timurnya membentang sepanjang sisi batas air sungai Nil.

Perkiraan bagian negeri yang ditutupi hutan berkisar di pada 75%, dengan bagian terpadatnya di selatan. Hutannya amat beragam, fdan termasuk spesies Ayous, Sapelli dan Sipo yang penting secara komersial [3]. Tingkat penggundulan hutan terkini ialah 0,4% per tahun, dan penebangan liar umum. [4]

Umumnya iklim di Republik Afrika Tengah itu tropis. Wilayah utaranya ialah tempat angin harmattan, yang panas, kering, dan membawa debu. Bagian utaranya menjadi tempat desertifikasi, dan timur lautnya bergurun. Bagian lainnya mudah kebanjiran dari sungai sekelilingnya.

Faktor-Faktor Penghambat Pertumbuhan Ekonomi di Afrika:

meninjau status ekonomi benua Afrika yang semakin memburuk, dan melihat cara bagaimana negara-negara kaya di dunia bisa membantu negara miskin, termasuk negara Afrika untuk keluar dari garis kemiskinan.

1. Dengan menggunakan faktor penentu ekonometrik pertumbuhan ekonomi di bagian lintas negara, maka dapat ditentukan beberapa faktor yang paling berpengaruh di balik terjadinya tragedi kemiskinan di negara Afrika tersebut. Dan salah satu faktor yang paling berpengaruh tersebut disebabkan karena kurangnya investasi. Selama 40 tahun terakhir, tingkat investasi di Afrika semakin jatuh atau menurun.

Sejak tahun 1975, tingkat investasi telah ditolak sebanyak 8.5 % untuk seluruh benua, jika dibandingkan dengan tingkat investasi untuk performa rata-rata OECD (Organization for Economic Coorporation and Development), yaitu sekitar 20 dan 25 %, dan untuk ekonomi Asia Tenggara sebesar 30 %.

Baca Juga :

Selain itu, penyebab terhambatnya pertumbuhan ekonomi adalah karena sebagian besar investasi digunakan untuk sektor publik yang tidak penting atau tidak efisien. Akan tetapi kabar baiknya adalah, reformasi di Afrika beberapa waktu lalu telah berhasil menaikkan tingkat investasi, meskipun hanya sedikit.

2. Faktor penentu kedua adalah sumber daya manusia, pendidikan dan Kesehatan. Untuk ketiga hal tersebut, Afrika termasuk yang paling buruk di dunia. Pada tahun 1960-an, jumlah anak yang melaksanakan pendidikan sekolah dasar secara keseluruhan hanya berkisar 42 %, jumlah ini merupakan jumlah yang paling kecil, dibandingkan dengan negara-negara OECD atau Asia Timur yang bisa mencapai 100 %.

Ketika Afrika terdaftar di dalam OECD selama tahun 1960-an, tercatat bahwa tingkat pertumbuhan dalam bidang kesehatan rata-rata mencapai 0,9 %, dan pertumbuhannya yang paling tinggi mencapai 2,37 %. Pendapatan per-kapita Negara ini meningkat menjadi dua setengah kali lebih besar daripada yang sebelumnya. Dan alhasil, saat ini Afrika berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya menjadi lebih baik dibandingkan dengan tahun 1960 lalu.

Pada tahun 1960, diperkirakan bahwa warga Afrika hanya memiliki harapan hidup sampai umur 40 tahun saja. Perhitungan ini sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara OECD dan Asia Timur lainnya, yang memiliki harapan hidup masing-masing sampai umur 67 dan 62 tahun. Kalau saja Afrika memiliki harapan hidup yang sama dengan negara-negara OECD, kemungkinan laju pertumbuhan tahunan Negara ini akan meningkat menjadi 2,07 %.

Kalau hanya mengharapkan bantuan dari negara lainnya, mungkin tidak akan bisa banyak membantu Negara ini keluar dari garis kemiskinan. Warga Afrika ini perlu mencoba alternatif lainnya. misalnya saja, Afrika bisa mencoba melakukan penelitian lanjut, yang berfokus pada masalah kesehatan yang berpotensi menghancurkan Negara, seperti: mencoba menemukan vaksin, yang bisa mencegah penyakit Aids atau malaria. Afrika memiliki sumber daya dan keahlian untuk melakukan hal tersebut.

Jika berhasil, berbagai Negara akan berinvestasi untuk hal tersebut. Mengingat saat ini vaksin tersebut sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan di seluruh dunia. Hal ini mungkin akan membantu Afrika dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya. Dan jika pertumbuhan ekonomi tersebut semakin meningkat, kehidupan warga di Afrika secara berangsur-angsur akan membaik.

3. Faktor ketiga yang sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Afrika adalah Konflik Militer. Konflik militer yang melanda benua ini selama setengah abad, ternyata berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara, yang meliputi: perkembangan lembaga hukum, investasi pendidikan, pengurangan distorsi kebijakan yang membuat investasi menjadi lebih mahal, dan jika konflik militer ini bisa di atasi, maka dapat mengurangi pengeluaran konsumsi yang terlalu boros.

4. Pembukaan ekonomi Afrika di pasar perdagangan dan difusi teknologi juga sangat penting. Selagi pemerintah Afrika melakukan banyak hal untuk membuka perekonomian mereka, Negara lain seperti Eropa, Jepang dan Amerika Serikat dapat berkontribusi, dengan memfasilitasi akses produk Afrika ke pasar negara-negara tersebut.

5. Salah satu konsekuensi penting dari stagnasi ekonomi di Afrika adalah karena ketidaksetaraan pendapatan, dimana para warga miskin diberi pendapatan yang sangat kecil, sedangkan warganya yang kaya mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar. Tentu saja hal ini akan membuat atau menciptakan ketidakstabilan di sutu negara.

Melihat kondisi warga Afrika yang begitu mengerikan, hidup dengan serba kekurangan, menderita banyak penyakit gizi buruk, dan sebagainya, cukup menyayat hati orang-orang yang melihatnya. Kalau hal kemiskinan ini tidak segera diatasi, maka kehidupan warga negara Afrika ini akan semakin memburuk, dan parahnya bisa menyebabkan banyak kematian.

Related posts

http://www.joker338.org/